Jumat, 12 April 2013

Aklimatisasi, Penyesuaian Tubuh terhadap Ketinggian


Buat yang sering naik gunung wajib waspada nih!! Di ketinggian, acute mountain sickness sampai hipertensi pulmoner seringkali menghantui. .hehe. .

Dataran tinggi merupakan daerah sekitar 5.000 kaki (1.524 meter) di atas permukaan laut. Ini merupakan ketinggian dimana tubuh yang mengalami perubahan kadar oksigen, mulai beradaptasi dengan meningkatkan frekuensi pernapasan.
Persentase oksigen di ketinggian berapa pun tetap sama, yaitu sebesar 21%. Namun, dengan menurunnya tekanan udara di ketinggian, jumlah oksigen menurun secara relatif. Tekanan barometer pada permukaan laut, adalah sebesar 760 mmHg, dan pada ketinggian 3.000m sekitar 534 mmHg. Ini menyebabkan oksigen yang dihirup hanya sekitar 15% dari yang biasa dihirup, atau berkurang 29% dibandingkan oksigen pada permukaan laut. Dengan tipisnya kadar oksigen di ketinggian, hipoksia akan mendorong terjadinya vasokonstriksi pada paru. Ini bertujuan agar oksigen yang dihantarkan ke tubuh tetap cukup, meski oksigen di udara lebih rendah. Vasokonstriksi pulmoner yang berlebihan pada akhirnya dapat menyebabkan hipertensi pulmoner dan kegagalan jantung kanan yang disebabkan oleh peningkatan Pulmonary Arterial Pressure (PAP). Ini pertama ditemukan pada prajurit India, yang ditempatkan di ketinggian 5.800 – 6.700 meter dan bayi bangsa Han di Lhasa. Mereka mengalami gagal jantung kanan dalam waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan, setelah tinggal di dataran tinggi.
Aklimatisasi adalah proses tubuh dalam menyesuaikan diri secara bertahap terhadap perubahan lingkungan seperti perubahan temperatur, kelembaban, pH, atau photoperiodisme (perubahan panjang waktu siang dan malam). Kemampuan aklimatisasi seseorang memungkinkannya untuk tetap memiliki performa yang baik, di lingkungan yang berbeda.
Pada ketinggian, terjadi hipoksia yang akan dirasakan sehingga terjadi peningkatan frekuensi napas (hiperventilasi). Tubuh orang yang baru tiba di dataran tinggi akan mengkompensasi dengan hiperventilasi yang bertujuan menurunkan PCO2, dan meningkatkan PaO2. Jika respon ventilasi tidak adekuat, dapat terjadi acute mountain sickness. Hiperventilasi juga dapat menyebabkan efek samping berupa alkalosis respiratorik, sehingga kompensasi yang terjadi tidak dapat maksimal. Kemampuan untuk meningkatkan frekuensi napas, dapat terjadi akibat respon badan karotis tidak adekuat, atau penyakit paru dan ginjal. Selain itu, di ketinggian detak jantung akan meningkat, stroke volume akan menurun sedikit dan beberapa fungsi tubuh tertekan.
Setelah beberapa hari, tubuh akan bertahap mengkompensasi alkalosis respiratorik melalui ekskresi bikarbonat dari ginjal, sehingga respirasi dapat mencukupi kebutuhan tubuh tanpa risiko terjadinya alkalosis. Kompensasi akan lebih baik dengan pemberian acetazolamid. Hal lain yang terjadi adalah penurunan produksi asam laktat, penurunan volume plasma, peningkatan hematokrit (polisitemia), peningkatan jumlah eritrosit, peningkatan jumlah kapiler pada otot lurik, vasokonstriksi paru, hiperventrofi ventrikel kanan, dsb.
Obat profilaksis untuk mencegah udem pulmoner HAPE berdasarkan Institure For Altitude Medicine:
1.  Tadalafil, 10 mg per oral 2 x sehari, dimulai pada hari keberangkatan sebelum berangkat. Dilanjutkan selama 2-4 hari, pada ketinggian tidur maksimal.
2.   Sildenafil, 50 mg per oral, 3 x sehari, dimulai pada hari keberangkatan sebelum berangkat. Dilanjutkan selama 2-4 hari pada ketinggian tidur maksimal.
3. Nifedipin XR 30 mg per oral, 2 x sehari, dimulai pada pada hari keberangkatan sebelum berangkat. Dilanjutkan selama 2-4 hari pada  ketinggian tidur maksimal.
4. Dexamethason 8 mg per oral, 2 x sehari, sehari sebelum berangkat. Dilanjutkan selama 2 -4 hari pada ketinggian tidur maksimal (jangan lebih dari 5-7 hari berturut-turut).
5. Acetazolamid 125 mg per oral, 2 x sehari, dimulai pada hari keberangkatan sebelum berangkat. Dilanjutkan selama 2-4 hari pada ketinggian tidur maksimal.
6.  Salmeterol 5 x semprotan 2 x sehari, dimulai pada hari keberangkatan  sebelum berangkat. Dilanjutkan selama 2-4 hari pada ketinggian tidur maksimal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar